LAPORAN
PRAKTIKUM ILMU TANAH
MAKALAH
Diajukan
untuk prasyarat UAS tanggal 31 Mei 2013 dalam perkuliahan Ilmu Tanag di bawah
bimbingan Bapak Cecep Hidayat, Ir. MP.
Disusun
oleh :
Ahmad
Fauzi
Ali
Muhammed
Destiyanti
Nur Sartika Dewi
Geugeut
Katia Hilda Nindia
|
1127060007
1127060010
1127060035
1127060035
|
PROGRAM STUDI
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS SAINS
DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG
DJATI BANDUNG
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Illahi Robbi karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya kami bisa menyelesaikan laporan yang berjudul “Laporan
Praktikum Ilmu tanah”, makalah ini di susun sebagai prasyarat UAS mata kuliah
Ilmu Tanah.
Kami
menyadari bahwa selama penulisan Laporan ini banyak mendapat bantuan dari
berbagai pihak. Oleh sebab itu, kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Cecep Hidayat dan Ibu Yati Setiati, selaku dosen mata kuliah Ilmu Tanah yang
telah membantu kami dalam menyusun laporan ini;
- Rekan-rekan seangkatan yang telah memotivasi kami untuk menyelesaikan penyusunan makalah ini;
- Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
laporan ini bukanlah karya
yang sempurna karena masih banyak kekurangan, baik dalam hal ini maupun
sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun dalam penyempurnaaan laporan ini.
Semoga makalah ini memberikan manfaat. Amiin.
Bandung, Mei 2013
Penulis
I. PENDAHULUAN
Survai dan pemetaan tanah adalah
merupakan kegiatan penelitian tanah di lapangan yang tujuannya adalah untuk
mengklasifikasikan, menganalaisis dan memetakkan tanah dengan mengelompokan
tanah-tanah yang hampir sama sifatnya ke dalam satuan peta tanah (SPT) tertentu.
Survei dan pemetaan tanah tanah biasanya selalu diakhiri dengan pembuatan
profil tanah, maksudnya adalah untuk menentukan nama jenis dan orde tanah dalam
satuan peta tanah tertentu.
Profil tanah adalah penampang vertikal
dari tanah yang menunjukan sususan horizon (O, A, E, AB/EB, BA/BE, B, BC/CB, C
dan R) kurang lebih sejajar dengan permukaan tanah dan dibedakan satu sama lain
atas dasar warna, tekstur, struktur, konsistensi, sifat-sifat kimia, susunan
mineral dan lain-lain.
Pembuatan profil tanah dilakukan pada
tempat-tempat yang mewakili satuan peta tanah (SPT) atau pada satu polifedon.
Profil tanah di buat dengan menggali lubang sampai kedalaman 150-200 cm atau
sampai lapisan bahan induk jika solum tanah tebalnya kurang dari batas tersebut.
Pengamatan penampang/profil tanah
meliputi semua ciri-ciri morfologi tanah yang dapat dilihat, dirasa atau
dibedakan dengan alat-alat sederhana dari tiap-tiap lapisan atau horizon.
Pengamatan daerah sekeliling dengan mencatat semua faktor-faktor yang dapat memepengaruhi
pembentukan profil tanah atau kemampuan tanah untuk usaha pertanian. Pengamatan
tersebut dicatat dalam deskripsi profil tanah yang menggunakan kaidah-kaidah
dan simbol-simbol tertentu seperti yang diuraikan dalam soil taxsonomy
(USDA,1975) dan soil survei manual (USDA, 1951).
II. TUJUAN
Agar
mahasiswa mengetahui, mengerti dan dapat melakukan pembuatan dan pengamatan
profil tanah di lapangan.
III. DASAR TEORI
Pengertian atau definisi tanah yang
dewasa ini dikemukakan adalah berdasarkan dua pemikiran yang berbeda yang sejak
semula telah timbul, yaitu dari segi kimia dan geologi. Seorang ilmuwan Jerman,
yaitu Yustus von Liebig (1840), sependapat dengan beberapa ahli sebelumnya,
diantaranya yaitu Berzelius (Swedia) yang menggambarkan tanah sebagai laboratorium
kimia dari alam ini. Di dalam tanah terjadi berbagai penguraian kimiadan
reaksi-reaksi sintesis secara tersembunyi. Para ahli pedologi yang berlatar
belakang geologi menganggap bahwa tanah terbentuk dari batu-batuan dengan
sejumlah bahan organic tertentu sebagai hasil penguraian sisa-sisa tumbuhan.
Pengertian tanah berikutnya dating dari
dua orang yang tidak terpengaruh satu sama lain, yaitu Nilgard dan Docuchaiev
(1877), masing-masing dari Anerika Serikat dan dari Rusia. Menurut mereka
pengertian tanah harus dihubungkan dengan iklim, dan dapat digambarkan sebgai
daerah-daerah (zone) geografi yang luas yang dalam skala peta dunia tidak hanya
dihubungkan dengan iklim tetapi juga dengan lingkungan tumbuh-tumbuhan.
Meskipun hal ini tidak sepenuhnya benar tetapi pengertian ini sudah mencakup
atau memperhatikan alam lingkungan.
Definisi dari joffe memiliki beberapa
kelebihan, yaitu telah melibatkan unsur-unsur fisika, kimia dan biologi, dan
memperhatikan pentingnya segi morfologi dalam menggambarkan tanah. tanah itu
adalah suatu benda alam yang tersusun dari unsur-unsur hewani, mineral, dan
bahan organic yang dibedakan dari bahan-bahan di bawahnya dalam hal morfologi,
sifat-sifat fisik, kimia, dan biologinya.
Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan
bahwa, dilihat dari sudut pertanin, tanah adalah alat atau faktor produksi yang
dapat menghasilkan berbagai produk pertanian. Peranan tanah sebagai alat
produksi adalah sebagai berikut :
-
Tanah sebagai tempat
berdirinya tanaman,
-
Tanah sebagai gudang
tempat unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman,
-
Tanah sebagai tempat
persediaan air bagi tanaman,
-
Tanah dengan tata udara
yang baik merupakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan tanaman.
Untuk memperoleh
gambaran yang jelas dan untuk meneliti sifat-sifat tanah dengan baik di
lapangan, maka perlu dilakukan irisan tegak lurus dari permukaan tanah ke
bawah. Dari irisan tegak lurus ini akan terlihat hubungan tanah yang berada di
permukaan bumi dengan benda-benda bagian bawahnya sebagai pembentuk tanah.
irisan tegak lurus seperti ini umumnya sampai kedalaman ± 150 cm, disebut
profil tanah.
Secara
garis besarnya profil tanah dapat digambarkan sebagai berikut:

Seluruh
bagian yang merupakan tumbuhan bahan pecahan yang sudah merupakan partikel yang
kecil-kecil dan terdapat di atas batuan beku sering disebut regolith. Tebalnya
regolith itu bisa bermacam-macam, bisa tipis dan bisa tebal sekali (± 1,5 m),
tergantung kepada proses pembentukannya. Bahan-bahan pembentuk tanah terutama
berasal dari batuan induk setempat atau didatangkan dari tempat lain oleh
gaya-gaya alami seperti oleh gaya aliran air, angina, es, atau melalui
proses-proses lain dan sedimentasi.
Bila
lapisan bagian atas regolith tersebut diteliti dengan seksama maka akan
terlihat perbedaan-perbedaan iklim dan proses-proses hancuran oleh iklim. Di
samping itu lapisan ini merupakan zone perakaran tanaman dan tempat hidup
berbagai mikroorganisme. Akibat proses hancuran batuan induk yang berupa
mineral yang dicampur adukan dengan hasil perombakan sisa-sisa tanaman dan
binatang membentuk lapisan teratas, yaitu yang disebut dengan tanah.
Dilihat
dari dekat susunan tanah itu terdiri dari beberapa lapisan yang kira-kira
pararel dengan permukaan tanah dan disebut horizon-horizon, yaitu horizon A, B,
dan C. Lapisan yang paling atas biasanya berwarna lebih gelap atau kehitaman,
lebih subur/gembur, merupakan tempat pengolahan tanah dan disebut lapisan tanah
atas (top-soil) atau lapisan olah. Tebal lapisan ini 0 – 25 cm.
Lapisan
tanah yang langsung di bawahnya dan langsung di atas lapisan bahan induk (hor.
C) disebut lapisan tanah bawah (sub-soil). Lapisan ini lebih tebal dari lapisan
tanah atas dan biasanya dibagi lagi ke dalam beberapa lapisan. Warnanya lebih
muda dan lebih terang, lebih padat, sedang kandungan bahan organiknya lebih
sedikit.
Tanah adalah suatu benda alam yang
bersifat kompleks atau memiliki sistem yang heterogen karena tersusun dati tiga
fase, yaitu fase cairan, fase padat, dan fase gas. Bagian atau fase padat
terdiri dari bahan-bahan organic dan organic, fasegas adalah udara tanah,
sedangkan fase cairan adalah air tanah yang mengandung bahan-bahan yang
terlarut di dalamnya. Bahan organic terdiri dari sia-sisa tanaman dan hewan dan
jasad-jasad hidup lainnya yang bersifat makro atau mikro, yang hidup dalam
tanah. Bahan organic terdapat dalam berbagai bentuk dan ukuran yang terdiri
dari pecahan batuan-batuan, mineral, dan berbagai senyawa-senyawa dan garam
yang biasa larut dalam air. Sedangkan udara tanah yang merupakan fase gas
mengisi pori-pori tanah, tetapi yang tidak ditempati oleh air tanah.
Tanah itu merupakan suatu sistem yang
kompleks dan heterogen. Bagian padat disebut pula matriks, terdiri dari
butir-butir yang berlainan susunan kimia dan mineralnya, juga ukuran, bentuk,
dan arahnya.
Untuk memisahkan ketiga fase atau bagian
tanah tadi tidak gampang oleh karena terdapat interaksi satu sama lain.
Meskipun demikian setiap fase dapat dinyatakan secara kuantitatif dengan jalan
mempelajari setiap fase secara skematik sebagai bagian-bagian tanah yang
terpisah. Untuk mendapat gambaran mengenai tanah yang kompleks ini, maka perlu
juga digambarkan mengenai bahian sususan agregat tanah dalam segumpal tanah
tertentu yang terbentuk secara alami.
a. Warna tanah
Warna merupakan petunjuk untuk beberapa
sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat
dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan warna permukaan tanah umumnya oleh
perbedaan kandungan bahan organic. Makin tinggi kandungan bahan organic, warna
tanah semakin gelap.
Hubungan warna tanah dengan kandungan
bahan organic di daerah tropika sering tidak sejalan dengan di daerah beriklim
sedang (Amerika, Eropa). Tanah-tanah merah di Indonesia banyak yang mempunyai
kandungan bahan organic lebih dari 1% sama dengan kandungan bahan organic tanah
hitam (Mollisol) di daerah beriklim sedang.
Warna tanah akan berbeda bila tanah
basah, lembab atau kering, sehingga dalam menentukkan warna tanah perlu dicatat
apakah tanah tersebut dalam keadaan basah, lembab atau kering.
Tekstur tanah menunjukkan kasar
halusnya dari fraksi tanah halus. Berdasar atas perbandingan anyaknya
butir-butir pasir, debu, liat maka tanah dikelompokkan kedalam beberapa kelas
tekstur. Dalam klasifikasi tanah tingkat famili kasar halusnya tanah
ditunjukkan dalam kelas sebaran besar butir yan mencakup seluruh tanah. Kelas
besar butir merupakan penyederhanaan dari kelas tekstur tanah tetapi dengan
memperhatikan pula banyaknya fragmen batuan atau fragsi tanah yang lebih besar
dari pasir. Tanah-tanah bertekstur liat ukuran butienya lebuh halus maka setiap
satuan berat mempunyai luas luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan
air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah yang bertekstur halus lebih aktif
dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar (Hardjowigeno,2003)
Partikel-partikel tanah primer itu
mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda-beda dan dapat digolongkan ke dalam
tiga fraksi. Ada yang berdiameter besar sehingga dengan mudah dapat dilihat
dengan mata tenaljang, tetapi ada pula yang sedemikian halusnya, seperti
koloidal, sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.


Untuk menentukan kelas tekstur suatu
tanah secara teliti sekali harus dilakukan analisa tekstur di laboratorium yang
disebut analisa mekanik tanah. umpamanya dari analisa ini diperoleh hasil 30
persen pasir, 3o persen liat, dan 40 persen debu, maka dengan menggunakan
segituga tekstur dapat dicari kelas struktur ini dan bisa diketahui banyak
sifat-sifat fisik lainnya seperti porositasnya, daya tahan terhadap air,
ketersediaan air, mudah tidaknya diolah, laju kecepatan infiltrasi,
konsistensi, juga kandungan unsur hara yang tersedia, menentukan jumlah butuhan
akan air.
Struktur tanah merupakan gumpalan kecil
dari butir-butir tanah. Gumpalan struktur tanah ini terjadi karena butir-butir
pasir, debu, dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan
organik, oksida-oksida besi, dan lain-lain. Gumpalan-gumpalan kecil (struktur
tanah) ini mempunyai bentuk, ukuran, dan kemantapan (ketahanan) yang
berbeda-beda.
Struktur tanah dikelompokkan dalam 6
bentuk. Keenam bentuk tersebut adalah:
1) Granular,
yaitu struktur tanah yang berbentuk granul, bulat dan porous, struktur ini
terdapat pada horison A.
2) Gumpal
(blocky), yaitu struktur tanah yang berbentuk gumpal membuat dan gumpal
bersudut, bentuknya menyerupai kubus dengan sudut-sudut membulat untuk gumpal membulat
dan bersudut tajam untuk gumpal bersudut, dengan sumbu horisontal setara dengan
sumbu vertikal, struktur ini terdapat pada horison B pada tanah iklim basah.
3) Prisma
(prismatic), yaitu struktur tanah dengan sumbu vertical lebih besar daripada
sumbu horizontal dengan bagian atasnya rata, struktur ini terdapat pada horison
B pada tanah iklim kering.
4) Tiang
(columnar), yaitu struktur tanah dengan sumbu vertical lebih besar daripada
sumbu horizontal dengan bagian atasnya membuloat, struktur ini terdapat pada
horison B pada tanah iklim kering.
5) Lempeng
(platy), yaitu struktur tanah dengan sumbu vertikal lebih kecil daripada sumbu
horizontal, struktur ini ditemukan di horison A2 atau pada lapisan padas
liat.(6) Remah (single grain), yaitu struktur tanah dengan bentuk bulat dan
sangat porous, struktur ini terdapat pada horizon A.
Konsistensi adalah daya tahan atau
ketahanan tanah terhadap pengaruh-pengaruh luar yang akan mengubah keadaanya.
Terdapat dua kekuatan utama yang bekerja
atau berperan pada konsistensi tanah ini, yaitu gaya kohesi (gaya tarik-menarik
anatar molekul) dan gaya tegangan permukaan (adhesi) pada berbagai kelembaban
tanah. sebagai tambahan dari kedua gaya ini terdapat beberapa faktor lain yang
juga bekerja pada konsistensi tanah ini, yaitu kandungan bahan organic, oksida
dan hidroksida Fe dan Al dan kalsium karbonat.
Konsistensi yang paling besar yaitu pada
keadaan paling kering yang disebabkan oleh adanya gaya kohesi, konsistensi
sedang pada waktu keadaan lembab karena adanya gaya adhesi, dan konsistensi
rendah/sangat rendah apabila dalam keadaan basah, sangat basah/jenuh air.
Berdasarkan kelembaban tanah maka
konsistensi ini keadaannya dapat diuraikan sebagai berikut :
-
Pada keadaan kelembaban
tinggi (jenuh air) tanah dalam keadaan dapat mengalir atau kental
-
Apabila kadar air
berangsur dikurangi maka tidak dapat mengalir lagi, keadaanya disebut lekat,
liat atau lunak
-
Apabila kadar air lebih
dikurangi lagi maka tanah akan kehilangan sifat melekatnya dan litany, berubah
menjadi gembur, retak-retak lunak, dan
-
Bila kadar air lebih
kurang dari (b) di atas, keadaan tanah menjadi kering, sukar dibelah, keras dan
kasar bila diraba, sehingga konsistensinya dinyatakan paling tinggi.
d. Reaksi
tanah atau pH tanah
Reaksi
tanah atau pH tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang
dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion
hydrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+
di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+
dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH- , yang jumlahnya berbanding
terbalik dengan banyaknya H+ . Pada tanah-tanah yang masam jumlah
ion H+ lebih tinggi daripada OH- , sedang pada tanah
alkalis kandungan OH- lebih banyak daripada H+ . Bila
kandungan H+ sama dengan OH- maka tanah beraksi netral
yaitu mempunyai pH = 7.
Nilai
pH berkisar dan 0 – 14 dengan pH 7 disebut netral sedang pH kurang dari 7
disebut masam dan pH lebih dari 7 disebut alkalis. Walaupun demikian pH tanah
umumnya berkisar dari 3,0 – 9,0. Di Indonesia umumnya tanahnya bereaksi masam
dengan pH 4,0 – 5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0 – 6,5 sering telah dikatakan
cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam.
Di
daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah-tanah sangat masam dengan pH kurang
dari 3,0 yang disebut tanah sulfat masam (cat clay) karena banyak mengandung
asam sulfat. Di daerah yang sangat kering (arid) kadang-kadang pH tanah sangat tinggi
(pH>9,0) karena banyak mengandung garam Na.
Pentingnya
pH tanah
-
Menentukkan mudah
tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman. Pada umumnya unsur hara mudah
diserap akar tanaman pada pH tanah sekitar netral, karena pada pH tanah
tersebut kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air. Pada tanah masam unsur P
tidak dapat diserap tanaman karena diikat (difiksasi) oleh Al, sedang pada
tanah alkalis unsur P tidak dapat diserap tanaman karena difiksasi oleh Ca.
-
Menunjukkan kemungkinan
adanya unsur-unsur beracun. Pada tanah-tanah masam banyak ditemukan ion-ion Al
di dalam tanah, yang kecuali memfiksasi unsur P juga merupakan racun bagi
tanaman. Pada tanah-tanah rawa pH yang terlalu rendah (sangat masam) menujukkan
kandungan sulfat tinggi, yang juga mereupakan racun bagi tanaman. Di samping
itu pada reaksi tanah yang masam, unsur-unsur mikro juga menjadi mudah larut,
sehingga ditemukan unsur mikro yang terlalu banyak. Unsur mikro adalah unsur
hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang sangat kecil, sehingga menjadi
racun kalau terdapat dalam jumlah yang etrlalu besar termasuk unsur mikro dalam
jenis ini adalah Fe, Mn, Zn, Cu, Co. unsur mikro yang lain yaitu Mo dapat
menjadi racun kalau pH terlalu alkalis. Di samping itu, tanah yang terlalu
alkalis juga sering mengandung garam yang terlalu tinggi yang juga dapat
menjadi racun bagi tanaman.
-
Mempengaruhi
perkembangan mikroorganisme.
o Bakteri
berkembang dengan baik pada pH 5,5 atau lebih sedang pada pH kurang dari 5,5
perkembangannya sangat terhambat.
o Jamur
dapat berkembang baik pada segala tingkat kemasaman tanah. pada pH lebih dari
5,5 jamur harus bersaing dengan bakteri.
o Bakteri
pengikat nitrogen dari udara dan bakteri nitrifikasi hanya dapat berkembang
dengan baik pada pH lebih dari 5,5.
o Mengubah
pH tanah : tanah yang terlalu masam dapat dinaikkan pHnya dengan menambahkan
kapur ke dalam tanah, sedang tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkan pHnya
dengan penambahan belerang.
IV. BAHAN DAN ALAT
ALAT:
1.
Cangkul
2.
Sekop
3.
Pisau belati
4.
Row meter atau mistar
5.
Munsell soil color
charts
6.
Botol semprot
7.
pH Universal indikator
dan botol kocok
8.
kaca pembesar
9.
deskripsi profil tanah
10.
lap pembersih
BAHAN:
1.
Air dan aquades
V. CARA KERJA
1.
Pemilihan tempat dan
pembuatan profil tanah
·
Keadaan penampang
profil tanah harus masih bersifat alami atau keadaan solum belum di rusak oleh
tenaga mekanis luar
·
Profil tanah tidak
boleh dibuat di tempat bekas timbunan
pupuk, tanah galian/timbuna, bekas bangunan/jalan, kuburan, ubinan, persemayan,
percobaan, dan pembungan sampah atau kotoran.
·
Untuk mencegah
kesalahan kami membuat profil tanah tidak terlalu dekat dengan jalan saluran
air, perumahan, pekarangan, dan pabrik
·
Tempat yang akan dibuat
lubang profi tanah dilakukan pemboran sedalam 120cm di 2-3 tempat dengan jarak
1m. Jika 2-3 kali pemboran menunjukan kedaan tanah yang sama maka tempat
tersebut bisa dibuat lubang profil tanah
·
Lubang profil tanah
dibuat dengan ukuran sesuai kebutuhan atau minimal ukuran yang digunakan adalah
1,5m x 1 m x 1,5m - 2m
·
Penampang yang akan
diperiksa dibuat disisi lubang yang mendapat sinar matahari. Bila ditempat yang
miring penmpang yang akan diperiksa dipilih pada lereng atas tanah bekas galian
tidak boleh ditimbun diatas sisi penampang yang akan diperiksa
2.
Cara Pengamatan
Sebelum
pengamatan dimulai perlu diperhatikan:
·
Penampang yang akan
diteliti harus bersih dan terang
·
Semua alat-alat dan
bahan harus bersih
·
Jika lubang profil
berair maka air tersebut harus dibuang
·
Selanjutnya pengamatan
tidak boleh dilakukan saat huajn turun, cahaya matahari masih/ sudah lemah.
·
Bila keadaan tanah
sangat kering sebaiknya penampang dibuat lembab dengan cara menyemprotkan air
Berturut-turut pengamatan penampang
dilakukan sebagai berikut:
·
Pada penampang profil
dibuat tusukan-tusukan dengan pisau belati sambil dirasakan bagaimana perbedaan
kepadata tanah dari lapisan atas sampai bawah. Bersamaan dengan itu
tangan kiri meremas gumpalan tanah hasil cukilan maksudnya untuk mengetahi
perbedaan konsistensi dan tekstur serta perbedaan lainnya.
·
Pada bagian sisi
penampang pasang rol meter mulai dari permukaan tanah sampai bagian dalam
lubang profil.
·
Sambil memperhatikan
perbedaan warna dan tekstur dapat ditarik batas-batas lapisan (horizon) pada
tahap I, jika rna dan tekstur sama, maka perbedaan struktur, konsistens dan
kandungan bahan kasar/pragmen digunakan untuk menarik batas lapisan pada tahap II.
·
Setelah di dapat
batas-batas lapisan/horizon kemudian dicatat tebalnya tiap-tiap lapisan pada
deskripsi profil tanah yang telah disiapkan.
·
Selanjutnay tiap-tiap
lapisan/horizon berturut-turut dari atas kebawah tentukan dan catat pada
deskripsi profil tanah mengenai batas horizon, warna tanah, motlles, karatan,
tekstur, konsistensi, struktur, bahan organik, aktifitas fauna, selaput liat,
perakaran, keadaan batuan dan sifat-sifat
lainnya yang menunjang terhadap pembentukan tanah dan kemampuan lahan.
·
Hasil pengamatan dari
tiap-tiap lapisan dicatat pada deskripsi profil tanah berupa
simbol-simbol/singkatan dari hasil pengamatan tersebut dapat ditentukan nama
horizon/simbol lapisan dan selanjutnya ditentukan nama kalsifikasi tanah
menurut system taxonomy USDA secara tentative (sampai kategori great group)
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Horison
|
I
|
II
|
III
|
|||||||
pH
|
5,5
|
6,5
|
7
|
|||||||
Layer
|
depth (cm)
|
0 - 35 cm
|
36 - 70 cm
|
71 - 125 cm
|
||||||
horizon boundary
|
a
|
c
|
g
|
d
|
c
|
c
|
d
|
|||
s
|
w
|
l
|
b
|
w
|
w
|
w
|
||||
Mottles
|
f
|
m
|
a
|
-
|
f
|
-
|
||||
1
|
2
|
3
|
-
|
1
|
-
|
|||||
f
|
d
|
p
|
-
|
d
|
-
|
|||||
Concreation
|
f
|
m
|
a
|
-
|
f
|
-
|
||||
1
|
2
|
3
|
-
|
2
|
-
|
|||||
Fe
|
Ca
|
Mn
|
-
|
Mn
|
-
|
|||||
w
|
m
|
h
|
-
|
m
|
-
|
|||||
Texture
|
s
|
ls
|
sl
|
l
|
cl
|
cl
|
l
|
|||
si
|
cl
|
scl
|
sicl
|
|||||||
sc
|
sic
|
sil
|
c
|
|||||||
Consistency
|
W
|
so
|
ss
|
s
|
vs
|
ss
|
s
|
ss
|
||
po
|
sp
|
p
|
vp
|
po
|
p
|
p
|
||||
M
|
l
|
vfr
|
fr
|
fi
|
fi
|
efi
|
||||
fi
|
vfi
|
efi
|
||||||||
D
|
l
|
s
|
sh
|
l
|
sh
|
sh
|
||||
h
|
vh
|
eh
|
||||||||
Structure
|
0
|
1
|
2
|
3
|
2
|
2
|
2
|
|||
vf
|
f
|
m
|
c
|
vc
|
f
|
m
|
vc
|
|||
pl
|
pr
|
cpr
|
abk
|
gr
|
abk
|
pl
|
||||
sbk
|
gr
|
cr
|
||||||||
organic matter
|
h
|
m
|
l
|
m
|
l
|
-
|
||||
fc
|
hc
|
sc
|
hc
|
sc
|
-
|
|||||
fauna activity
|
Z1
|
Z2
|
Z3
|
Z2
|
Z1
|
-
|
||||
clay skin
|
C1
|
C2
|
C3
|
-
|
C3
|
C3
|
||||
Cracks
|
f
|
m
|
a
|
a
|
f
|
f
|
||||
1
|
2
|
3
|
2
|
1
|
1
|
|||||
Pores
|
f
|
m
|
a
|
f
|
f
|
f
|
||||
1
|
2
|
3
|
1
|
1
|
1
|
|||||
Roots
|
f
|
m
|
a
|
m
|
f
|
-
|
||||
1
|
2
|
3
|
2
|
1
|
-
|
|||||
stones/laterites
|
f
|
m
|
a
|
-
|
f
|
m
|
||||
1
|
2
|
3
|
-
|
2
|
3
|
|||||
Description :
|
||||||||||
Vegetation :
|
pohon pisang, nangka, pepaya dan rumput liar
|
|||||||||
Present land use :
|
campuran
|
|||||||||
Water table :
|
-
|
|||||||||
Drainage class lands unit :
|
bagus
|
|||||||||
Slope :
|
-
|
|||||||||
Depth to sand, gravel, plinthite, gley, cat clay :
|
-
|
|||||||||
Flooding (hours/days, depthof water on month :
|
-
|
|||||||||
Permeability rate/percolation :
|
-
|
|||||||||
Sketch of land-form :
|
-
|
|||||||||
B. Pembahasan
Dilihat dari perbedaan warna tanah,
tanah mulai berubah warna saat lapisan berada di kedalaman 35 cm, kedalaman ini
dihitung dari atas. Kedalaman lapisan I adalah 0 cm - 35 cm, kedalaman lapisan
2 adalah 36 cm - 70 cm dan kedalaman lapisan 3 adalah 71 cm - 125 cm. pH
masing-masing lapisan berturut-turut 5.5, 6.5 dan 7, Nilai pH ini menunjukan jika pada lapisan I,
II dan III bisa ditanami tanaman dan tanah ini berpotensi untuk subur tanpa
harus ada penambahan zat lain agar tanah ini menjadi netral karena pH ke 3
lapisan ini dalam pertanian termasuk ke dalam kategori netral.
Pada lapisan pertama menurut tabel
hasil adalah batas horizon ketajaman peralihannya tegas (c) karena perbedaan
warna dari lapisan pertama ke lapisan ke dua tegas atau terlihat cukup jelas
dengan lebar peralihannya 2,5 cm – 6,5 cm dan bentuk topografinya berombak ( w
). Dalam lapisan ini tidak terdapat bintik-bintik karatan (Mottles) dan konkresi
( Concreton ). Tekstur lapisan ini adalah lempung berliat (cl) karena
kekasarannya agak kasar, kelicinannya sedikit licin, kelengketannya cukup
lengket dan plastis, pembentukan bola dan benang tanahnya bola sangat kohesif
benang tanah daat dibentuk cincin. Konsistensi dalam keadaan basah ( W ) ialah
agak lekat ( ss ) dan tidak plastis ( po ), konsistensi dalam keadaan lembab
(M) ialah teguh (fi) dan konsistensi dalam keadaan kering ialah lepas (l).
Tingkat perkembangan struktur/ derajat kekerasan lapisan ini adalah lemah (2),
ukuran strukturnya adalah halus (f) dan bentuk struktur lapisan ini adalah
berbutir ( gr). Kandungan bahan organik lapisan ini adalah medium atau sedang,
dengan tingkat pelapukannya kandungan bahan organik kasas antara 1/3 – 2/3
(hc). Aktivitas Fauna pada lapisan ini adalah sedang (Z2) karena
tidak terlalu banyak aktifitas fauna pada lapisan ini. Celah-celah (crack) pada
lapisan ini ialah sedang (c) dengan ukuran celahnya sedang (2, 5 sampai 15 mm).
Pori-pori ialah sedikit ( f ), dengan Ukuran 1 (halus, < 2 mm). Perakarannnya
banyak (m), dengan ukurannya sedang (2) atau sedang (2 mm -10 mm). Dan tidak
terdapat batuan di lapisan ini.
Lapisan II ini kedalamannya dari 36 cm
sampai 74 cm dengan bats horizon jelas (c) karena perubahan warna tiap
lapisannya jelas dengan bentuk topografinya berombak (w). Jumlah bintik-bintik
karatan sedikit (f), ukuran karatannya halus (< 5 mm) dengan bandingan
karatan dengan tanahnya jelas, dan jenis karatannya ialah Mn karena ciri-ciri
karatan Mn (warna karatannya hitan dengan bentuk karatannya bulat benjol)
terdapat pada lapisan ini. Jumlah konkresi pada lapisan ini adalah sedikit
dengan ukurannya sedang (2, 2 mm – 5 mm), dengan kekerasannya sedang. Tekstur
lapisan ini adalah lempung berliat (cl) karena kekasarannya agak kasar,
kelicinannya sedikit licin, kelengketannya cukup lengket dan plastis,
pembentukan bola dan benang tanahnya bola sangat kohesif benang tanah daat
dibentuk cincin. Konsistensi dalam keadaan basah ialah leakt dan plastis,
konsistensi dalam keadaan lembab ialah teguh (fi) dan konsistensi dalam keadaan
kering ialah keras (sh). Struktur derazat kekerasannya ialah cukup / sedang (z)
dengan ukurannya sedang, dengan bentuk strukturnya ialah gumpal menyudut (abk).
Bahan organik lapisan ini adalah rendah (L, < 2 %) terlihat dari warna tanah
yang tidak gelap, dengan tingkat pelapukan bahan organiknya ialah kasar <
1/3. Aktivitas fauna lapisan ini sedikit (Z1). Selaput liat lapisan
ini banyak (C3) karena ini merupakan lapisan ke 2. Celah-celah
(Cracks) dilapisan ini sedikit (f) karena tanahnya mengandung liat yang sangat
banyak dengan ukuran halus (< 5 mm ).
Pori-pori tanah pada lapisan ini sedikit karena tanah mengandung sangat liat
yang sangat banyak dengan ukuran porinya halus. Perakaran pada lapisan ini
ialah sedikit dengan ukurannya halus (1, < 2 mm). Batuan pada lapisan ini
adalah sedikit (f) dengan ukurannya sedang (g).
Lapisan III, pada lapisan ini perubahan
warna sudah terlihat dari kedalaman 75 cm sampai 125 cm, dengan batas horizon peralihannya
baur (d) karena peralihan dari lapisan ke II ke lapisan ke III tidak terlalu
jelas dan bentuk topografinya berombak (w). Tidak ada karatan dalam lapisan
ini. Tekstur lapisan ini ialah lempung (l) karena dengan kekerasan tanah cukup
kasar, kelicinannya agak licin, kelengketan dan kelicinannya agak lengket dan
plastis, pembentukan bola dan benang tanah ialah bola cukup kohesip dan sukar
dibentuk benang. Pori-pori lapisan ini sedikit dengan ukurannya halus (1, <
2 mm), pada lapisan ini sudah tidak terdapat akar dan terdapat banyak batuan
induk (m) dengan ukuran batuan induk kasar (3, > 10 mm).
Di sekitar tanah galian terdapat pohon pisang pohon pepaya, rumput
liar, pohon nagka, disekitar lahan tidak ditanam tanaman tertentu atau tanaman
yang di tanam bermacam-macam dan sistem drainase di daerah ini bagus.
VII. KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil praktikum dapat di simpulkan bahwa :
1. Lapisan
I mempunyai kedalaman 0 – 35 cm dengan batas horizon tegas, bentuk topografi
berombak (w), tidak terdapat karatan. Tekstur lapisan ini adalah lempung
berliat (cl). Konsistensi basah, lembab dan kering berturut-turut agak lekat
dan agak plastis, halus (f) dan lepas (l). Struktur derajat kekerasannya ialah
lemah (1), bentuk strukturnya ialah berbutir (gr). Kandungan bahan organiknya
medium atau sedang. Aktifitas fauna lapisan ini ialah sedang (Z2) .selaput
liat lapisan ini ialah tidak ada. celah
celah pada lapisan ini sedang (C). Pori-pori lapisan ini sedikit (f).
Perakarannya Banyak (m). Dan tidak terdapat batuan pada lapisan ini.
2. Lapisan
II mempunyai kedalaman 36 – 74 cm dengan batas horizon jelas (c), bentuk
topografi berombak (w), terdapat karatan dengan jenis karatan Mn. Tekstur
lapisan ini adalah lempung berliat (cl). Konsistensi basah, lembab dan kering
berturut-turut lekat dan plastis , teguh (fi) dan agak keras (sh). Struktur
derajat kekerasannya ialah cukup (2), bentuk strukturnya ialah gumpal menyudut
(abk). Kandungan bahan organiknya rendah. Aktifitas fauna lapisan ini ialah sedikit
(Z1) . selaput liat lapisan ini ialah banyak (C3). celah celah pada lapisan ini sedikit (C).
Pori-pori lapisan ini sedikit (f). Perakarannya sedikit (f). Dan terdapat batuan pada lapisan ini (f).
3. Lapisan
III mempunyai kedalaman 75 – 125 cm
dengan batas horizon baur (c), bentuk topografi berombak (w), tidak terdapat
karatan. Tekstur lapisan ini adalah lempung (l). Konsistensi basah, lembab dan
kering berturut-turut agak lekat dan plastis, teguh sekali (Efi) dan keras
sekali. Struktur derajat kekerasannya ialah sedang (2), bentuk strukturnya
ialah berbutir (gr). Kandungan bahan organiknya tidak ada. Aktifitas fauna
lapisan ini ialah tidak ada . selaput liat lapisan ini ialah banyak (C3). celah celah pada lapisan ini sedikit (f).
Pori-pori lapisan ini sedikit (f). Perakarannya tidak ada. Dan terdapat banyak batuan pada lapisan ini.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Hardjowigeno, S. 2003. IlmuTanah.
Akademika Presindo
: Jakarta.
Sarief,
Saifuddin. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar